Pages

Powered by Blogger.
.

Popular Posts

Saturday, 15 November 2014

Tugas Rasul

21:107, "Dan tiadalah kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam."
Untuk mewujudkan tujuan agar menjadi Rahmatan lil ‘Alamin dibutuhkan tahapan-tahapan kerja serta solusi-solusi dalam mengatasi kendala-kendala di lapangan. Secara global seperti yang diterangkan dalam Al Quran surat 9:20,

"Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta, benda dan diri mereka, adalah lebih Tinggi derajatnya di sisi Allah; dan Itulah orang-orang yang mendapat kemenangan."
Tanpa tegaknya seluruh perintah Allah, dalam seluruh tatanan masyarakat, serta sirnanya seluruh penghalang, tujuan untuk menjadi rahmat bagi semesta alam tak akan tercapai. Jadi, tak boleh dibatasi oleh batas negara dan suku bangsa.

TUGAS RASUL-RASUL ALLAH
39:32-33, "Maka siapakah yang lebih zalim daripada orang yang membuat-buat dusta terhadap Allah dan mendustakan kebenaran ketika datang kepadanya? bukankah di neraka Jahannam tersedia tempat tinggal bagi orang-orang yang kafir? Dan orang yang membawa kebenaran (Muhammad) dan membenarkannya, mereka Itulah orang-orang yang bertakwa."
a. Meng-idzhar-kan atau Iqomatud-Diinullah diatas diin yang lain
9:33, "Dialah yang Telah mengutus RasulNya (dengan membawa) petunjuk (Al-Quran) dan diin yang haq untuk dimenangkanNya atas segala diin yang lain, walaupun orang-orang musyrikin tidak menyukai."
42:13, "Dia Telah mensyari'atkan bagi kamu tentang apa yang Telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang Telah kami wahyukan kepadamu dan apa yang Telah kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa yaitu: Tegakkanlah Ad-Diin dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya. amat berat bagi orang-orang musyrik apa yang kamu seru mereka kepadanya. Allah menarik kepada Ad-Diin itu orang yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada (diin)-Nya orang yang kembali (kepada-Nya)."
b. Menyelenggarakan khilafah dan mentegakkan keadilan

38:26, "Hai Daud, Sesungguhnya kami menjadikan kamu khalifah di muka bumi, Maka berilah Keputusan (hukum) di antara manusia dengan adil dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, Karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah. Sesungguhnya orang-orang yang sesat dari jalan Allah akan mendapat azab yang berat, Karena mereka melupakan hari perhitungan."

Sifat-Sifat Rasul

Rasul adalah seseorang dengan jenis kelamin laki-laki yang mendapatkan wahyu dari Allah SWT dan memiliki kewajiban untuk menyebar luaskan wahyu tersebut.
Nabi adalah seseorang dengan jenis kelamin pria yang mendapat wahyu dari Allah SWT namun tidak wajib disebarkan kepada orang lain.

Karena Rasul adalah manusia istimewa yang dipilih oleh Allah sebagai utusanNya, maka tentu Rasul memiliki sifat-sifat yang unggul.
Bergaul dengan baik merupakan bersikap baik kepada orang lain, sikap ini memerlukan seorang Muslim yang memiliki akhlak Islami. Kerana orang yang mampu memiliki sikap bergaul dengan baik terhadap orang lain, bererti ia merupakan orang yang sabar, lembut, murah hati, gemar memaafkan, jujur, memiliki sifat ‘Iffah (menjaga kehormatan diri), dapat dipercaya, zuhud dan tawādu‘. Sifat-sifat tersebut dan juga sifat yang lain dimiliki oleh Rasulullah s.a.w.. Dalam hal ini, Beliau telah menunjukkan teladan kepada kita semua dengan sikap yang Beliau praktikkan dalam memperlakukan dan mempergauli para sahabat, isteri-isteri, saudara maranya dan juga seluruh umat Islam dengan baik.
Rasulullah s.a.w.  adalah sosok yang mampu menguasai hati dan jiwa para sahabat, sehingga kecintaan mereka terhadap Beliau jauh melebihi kecintaan mereka kepada sesuatu yang lain. Ungkapan yang selalu mereka gunakan dan selalu mereka sebutkan ketika sedang berbicara dengan Beliau adalah: “Bi abī anta wa ummī yā Rasūlallāh”, yang ertinya: “Saya menebus anda dengan ayah dan ibuku wahai Rasulullah.”
Sikap memperlakukan dan mempergauli dengan baik yang dimiliki oleh Rasululah s.a.w. tidak hanya terbatas pada para sahabat Beliau sahaja. Akan tetapi mencakup semua kaum perempuan, saudara mara, orang lain dan juga budak-budak kecil, baik itu dilakukan ketika berada dalam perjalanan ataupun tidak. Semoga Salawat dan salam selalu tercurahkan kepada Rasulullah s.a.w..
Terhadap para sahabat, Beliau memperlakukan dan mempergauli mereka dengan baik dan lembut. Beliau memanggil mereka dengan sebutan nama kunyah mereka (nama julukan yang diawali dengan kata Abū atau Umm). Hal itu dilakukan sebagai tanda hormat kepada mereka dan juga untuk membahagiakan hati mereka. Jika terdapat seseorang di antara mereka yang belum memiliki nama kunyah, maka Beliau akan memberinya, sehingga untuk selanjutnya ia dikenal dan dipangil dengan nama kunyahtersebut. Beliau memberi nama kunyah kepada S)uhaib bin Mālik dengan sebutan Abū Yahyā, kepada ‘Abdullāh bin Mas‘ūd dengan sebutan Abū ‘Abd al-Rahmān, padahal ia tidak memiliki anak. Memberi nama kunyah kepada Anas bin Mālik dengan sebutan Baqlah dan memberi kunyah  kepada dan Abū Bakrah dengan namanya sendiri (dimaksudkan dengan sebutan Abū Bakrah).
Rasulullah s.a.w. juga memberi nama kunyah terhadap budak-budak kecil, seperti namakunyah Abū ‘Umair yang Beliau berikan kepada saudara Anas bin Mālik. Kisahnya adalah seperti berikut: Anas bin Mālik memiliki saudara lelaki yang bernama ‘Umair, ia memiliki teman bermain berupa seekor burung kecil yang dikenal dengan nama al-Naghru. Pada suatu ketika burung tersebut mati, hati ‘Umair pun bersedih. Melihat ‘Umair nampak bersedih, Rasulullah s.a.w. bertanya kepadanya: “Apa yang sedang terjadi pada diri ‘Umair?” Dikatakan kepadanya: “Burung kecil yang menjadi teman bermain telah mati.”Kemudian Beliau berkata kepada ‘Umair: “Wahai Abū ‘Umair, apa yang telah terjadi pada al-Nughair?”[1]
Beliau juga memberi nama kunyah terhadap kaum perempuan yang telah memiliki anak. Seperti halnya Beliau juga yang memulai memberikan nama kunyah terhadap kaum perempuan yang belum memiliki anak. Sebagai contoh, nama kunyah Umm ‘Abdillāh yang Beliau berikan kepada ‘Ā’isyah r.a (yang dimaksudkan dengan ‘Abdullāh di sini adalah anak lelaki saudara perempuan ‘Ā’isyah, iaitu ‘Abdullāh bin Zubair). Beliau juga memberikan sebuah nama kunyah Umm Khalīd kepada seorang perempuan, padahal pada waktu itu perempuan tersebut masih kecil.
Di antara fator yang menyebabkan para sahabat sangat mencintakan Rasulullah s.a.w.  adalah sikap dan perlakuan Beliau kepada mereka yang sangat baik dan lembut. Di bawah ini saya akan menyebutkan enam hadith yang menjadi bukti bahawa Beliau benar-benar memiliki sikap mempergauli para sahabat dengan sangat baik dan lembut. Enam hadith tersebut adalah seperti berikut:
1.    Setiap Rasulullah s.a.w. berjabat tangan dengan seseorang, maka Beliau tidak akan melepaskan genggaman tangannya kecuali orang yang berjabat tangan tersebut melepaskan genggaman tangannya terlebih dahulu.
2.    Pada suatu waktu, ada seorang hamba sahaya perempuan yang datang menemui Rasulullah s.a.w., kemudian ia memegang tangan Beliau dan mengajak Beliau pergi untuk suatu keperluan peribadinya. Beliau menurutkan kemauhan yang diinginkan hamba sahaya perempuan tersebut dan Beliau tidak akan meninggalkannya sampai ia mendapatkan apa yang diinginkan.
3.    Setiap ada seseorang yang mengajak bicara bengan Rasulullah s.a.w., Beliau tidak akan memalingkan mukanya dan berlalu pergi kecuali orang tersebut yang memulakan pergi terlebih dahulu.
4.    Rasulullah s.a.w. tidak pernah memotong pembicaraan seseorang, kecuali jika ia telah melanggar batas. Pada kebiasaannya, Beliau akan memotong pembicaraan mereka dengan cara memlarang mereka atau dengan berdiri.
5.    Setiap baginda Rasulullah s.a.w. bertemu dengan salah satu sahabat, maka Beliau akan memulakan untuk mengajak berjabat tangan, kemudian memegangnya dengan erat dan penuh persaudaraan.[2]
6.    Rasulullah s.a.w. selalu memulakan mengucapkan salam kepada setiap orang yang ditemukan.
Rasulullah s.a.w. adalah sosok yang terkenal sangat ramah dan mulia, ia selalu memuliakan setiap orang yang datang untuk bertemu dengan Beliau. Bahkan kadang-kadang Beliau membentangkan rida’ untuk para tetamu dan mempersilahkan mereka duduk di atas bantal yang sebelumnya Beliau duduk di atasnya. Jika mereka menolak, maka Beliau akan memaksanya sampai mau. Diriwayatkan bahawa pada suatu ketika ada salah seorang dari kelompok Bajīlat al-Abt)āl (ia adalah Jarīr bin ‘Abdullāh al Bajalī)[3]datang ke majlis Rasulullah s.a.w. yang penuh sesak oleh para sahabat. Ia berusaha mencari tempat duduk, namun tidak menemukannya, akhirnya ia duduk di pintu. Kemudian Rasulullah s.a.w. melipat rida’ Beliau dan melemparkan ke arah Jarīr dengan berkata: “Duduklah di atas rida’ ini.”  Jarīr mengambil rida’ tersebut, namun tidak ia gunakan untuk duduk akan tetapi ia tempelkan ke muka dan menciumnya sambil menangis. Kemudian ia kembalikan rida’ tersebut kepada Rasulullah s.a.w. seraya berkata: “Saya tidak akan duduk di atas rida’ Rasulullah s.a.w. ini, semoga Allah s.w.t memuliakanmu seperti halnya kamu telah memuliakan saya.” Rasulullah s.a.w. menoleh ke kiri dan ke kanan dan berkata: “Jika datang kepada kalian seseorang yang mulia di antara kaumnya, maka muliakanlah dirinya.”

SIFAT-SIFAT RASUL SAW
•       Karena Rasul adalah manusia istimewa yang dipilih oleh Allah sebagai utusanNya, maka tentu Rasul memiliki sifat-sifat yang unggul
•       Ini untuk mendukung keberhasilan penyampaian risalah, penunaian amanah, dan memimpin umat
•       Ini menjadi daya tarik bagi Rasul, sehingga manusia mau berhimpun di sekitarnya, bergerak bersamanya, dan dapat menggantikannya
SIFAT MANUSIAWI (اَلْبَشَرِيَّةُ)
•       Rasul yang diutus untuk manusia adalah manusia juga, bukan malaikat (18:110)
•       Oleh karena itu, Rasulullah SAW juga memperlakukan para sahabat secara manusiawi, bahkan kepada binatang dan tumbuhan pun memperlakukannya dengan sangat baik
•       Beberapa sisi manusiawinya Rasul:
–      Terhadap Sahabat-Sahabatnya
–      Terhadap Istri-istrinya
–      Terhadap Putra-putrinya
–      Terhadap Musuhnya
–      Terhadap hewan

1.    SIDIQ ( JUJUR )
Artinya : Dan kami anugerahkan kepada mereka sebagian dari rahmat kami dan kami  jadikan mereka buah tutur yang baik dan mulia ( QS. Maryam : 50 ) 
2.    AMANAH ( TERPERCAYA )
Artinya : Ketika saudara mereka ( Nuh ) berkata kepada mereka : “mengapa kamu tidak 
bertaqwa? Seseungguhnya aku ini seorang rasul kepercayaan ( yang diutus ) kepadamu ( QS. Asy- syu’aro : 106 – 107 ) 
3.    TABLIGH ( MENYAMPAIKAN WAHYU )
Artinya : Wahai Rasul ! sampaikanlah apa yang diturunkan Tuhanmu kepadamu ( QS.Al-maidah : 67 ) 



4.    FATHONAH ( CERDAS )
Artinya : Dan itulah keterangan kami yang kami berikan kepada Ibrahim untuk menghadapi kaumnya ( QS. Al- An’am : 83 ) 


MA’RIFATUR RASUL (معرفة الرسول (1


1.      Muqadimah


Dalam setiap kehidupannya, fitrah seorang insan akan senantiasa mengakui keberadaan suatu Dzat yang Maha segala-galanya. Namun dalam perjalanannya, untuk 

memahami secara benar mengenai Dzat yang Maha segala-galanya ini manusia tidak mungkin dapat mengetahuinya hanya dengan mengandalkan fitrah dan akalnya saja. 

Manusia ‘memerlukan’ seorang penuntun yang mengantarkan dirinya pada Allah, beserta cara untuk menyembah-Nya dengan baik dan benar. 

Di sinilah, Allah SWT mengutus para rasul, guna membimbing mereka ke jalan yang benar. Rasul yang juga meluruskan berbagai fenomena ‘kekeliruan’ dalam 

menyembah Allah. Di tambah lagi dengan adanya kelicikan syaitan yang senantiasa menjerumuskan insan dalam berbagai bentuk kemusyrikan. Tanpa seorang rasul, 

maka dapat dipastikan seluruh manusia akan tersesat dalam lembah kehinaan yang sangat mencekam.

Oleh karena itulah, sangat urgen bagi kita semua untuk kembali memahami hakekat para rasul, kedudukannya, urgensitasnya, sifat-sifatnya, tugas-tugasnya dan 

yang terakahir mengenai karakteristik risalah Nabi Muhammad SAW. Karena semua rasul adalah manusia. Semua rasul, mengajak pada satu ajaran yaitu mengesakan 

Allah dengan merealisasikan ibadah hanya kepada-Nya.


2.      Ta’rif Rasul.


Dari segi bahasa, rasul berasal dari kata ‘rasala’ yang berarti mengutus. Sedangkar rasul, adalah bentuk infinitif (baca; masdar) dari kata ‘rasala’ ini 

berarti utusan, atau seseorang yang diutus. Adapun dari segi istilahnya rasul adalah:


الرَّجُلُ الْمُصْطَفَي الْمُرْسَلُ مِنَ اللهِ بِالرِّسَالَةِ إِلَى النَّاسِ


Seorang laki-laki yang dililih dan diutus Allah SWT dengan membawa risalah kepada umat manusia.

Rasul merupakan seorang pilihan diantara sekian banyak manusia yang berada di muka bumi. Ia adalah manusia yang mulia dan terbaik, karena akan mengemban 

sebuah amanah yang tidak ringan, yaitu menunjukkan jalan Allah kepada umat manusia. Oleh karena itulah, sejak kecil, seorang rasul sudah terlihat dengan 

memiliki ciri-ciri khusus yang tidak dimiliki oleh orang lain. Karena ia akan membawa amanah yang tidak ringan. Secara garis besar, amanah yang diembankan 

kepada rasul adalah:

1.(حامل الرسالة) Membawa dan menyampaikan risalah (al-Islam)

Mengenai hal ini, Allah berfirman (QS. 5 : 67):


يَاأَيُّهَا الرَّسُولُ بَلِّغْ مَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ مِنْ رَبِّكَ وَإِنْ لَمْ تَفْعَلْ فَمَا بَلَّغْتَ رِسَالَتَهُ وَاللَّهُ يَعْصِمُكَ مِنَ النَّاسِ إِنَّ اللَّهَ لاَ يَهْدِي الْقَوْمَ الْكَافِرِينَ


“Hai Rasul, sampaikanlah apa yang di turunkan kepadamu dari Tuhanmu. Dan jika tidak kamu kerjakan (apa yang diperintahkan itu, berarti) kamu tidak 

menyampaikan amanat-Nya. Allah memelihara kamu dari (gangguan) manusia. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir.”

2.(قدوة في تطبيق الرسالة) menjadi qudwah (baca; tauladan) bagi umat manusia dalam mengaplikasikan risalah yang dibawanya. Karena manusia tidak akan mungkin dapat 

melaksanakan apa yang diperintahkan Al-Qur’an jika tidak dengan contoh dan tauladan dari Rasulullah SAW. Demikian juga para nabi-nabi yang lain, mereka 

memiliki tugas untuk menjadi qudwah dalam mengaplikasikan risalah. Allah SWT berfirman (QS. 33 : 21) :


لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا


“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari 

kiamat dan dia banyak menyebut Allah.”

Mengenai nabi yang lain, Allah mencontohkan dalam Al-Qur’an (QS. 60 :4)


قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِي إِبْرَاهِيمَ وَالَّذِينَ مَعَهُ إِذْ قَالُوا لِقَوْمِهِمْ إِنَّا بُرَآءُ مِنْكُمْ وَمِمَّا تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ كَفَرْنَا بِكُمْ وَبَدَا بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةُ وَالْبَغْضَاءُ أَبَدًا حَتَّى تُؤْمِنُوا بِاللَّهِ وَحْدَهُ


“Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia; ketika mereka berkata kepada kaum mereka: 

"Sesungguhnya kami berlepas diri dari kamu dan dari apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran) mu dan telah nyata antara kami dan kamu 

permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja.”



Kedudukan Rasul.


Sebagai manusia, seorang rasul juga memiliki ciri dan sifat yang sama dengan manusia lain pada umumnya. Rasulullah SAW juga demikian, beliau memiliki fisik 

yang sama sebagaimana sahabatnya, beliau juga memiliki nasab. Hanya beliau mendapatkan wahyu yang tentunya tidak didapatkan oleh orang lain, dan beliau 

memiliki kewajiban untuk menyampaikan risalah tersebut kepada seluruh umat manusia. Berikut adalah beberapa penjelasan mengenai kedudukan Rasulullah SAW:


1.(عبد من عباد الله)


Seorang rasul, ia merupakan seorang hamba diatara hamba-hamba Allah lainnya. Rasulullah SAW merupakan seroang hamba Allah sebagaimana yang lainnya. Beliau 

juga beraktivitas sebagaimana mereka beraktivitas. Beliau makan, minum, pergi ke pasar, beristri dan lain sebagainya. Beliau juga merasakan sesuatu yang kita 

rasakan, baik rasa suka ataupun rasa duka. Beliau juga mengalami sakit dan penderitaan sebagaimana kita mengalaminya. Bahkan penderitaan yang beliau rasakan, 

jauh lebih besar daripada penderitaan kita. Oleh karena itulah, sesungguhnya hal-hal yang beliau lakukan, juga dapat kita lakukan. Karena kita sama-sama 

manusia. Dan sesungguhnya tidak ada alasan bagi kita untuk mengerjakan perintah Rasul karena Allah telah mengutus rasul itu dari kalangan mereka sendiri yang 

sangat dekat dengan kehidupan mereka. Hanya yang membedakannya adalah bahwa beliau mendapatkan wahyu dari Allah SWT. Allah berfirman (QS. 18 : 110)


قُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ يُوحَى إِلَيَّ أَنَّمَا إِلَهُكُمْ إِلَهٌ وَاحِدٌ فَمَنْ كَانَ يَرْجُوا لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلاً صَالِحًا وَلاَ يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا


Katakanlah: "Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: "Bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan Yang Esa". 

Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat 

kepada Tuhannya".


2.(رسول من المرسلين) Rasulullah SAW merupakan seorang rasul diantara para rasul lainnya.


Rasulullah SAW selain sebagai hamba biasa juga sebagai rasul yang mempunyai keutamaan dan ciri-ciri kerasulan. Rasulullah SAW memiliki mu’jizat sebagaimana 

para nabi dan rasul yang lain, dengan berbagai keutamaan lainnya. Allah berfirman (QS. 3 : 144)


وَمَا مُحَمَّدٌ إِلاَّ رَسُولٌ قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِهِ الرُّسُلُ أَفَإِنْ مَاتَ أَوْ قُتِلَ انْقَلَبْتُمْ عَلَى أَعْقَابِكُمْ وَمَنْ يَنْقَلِبْ عَلَى عَقِبَيْهِ فَلَنْ يَضُرَّ اللَّهَ شَيْئًا وَسَيَجْزِي اللَّهُ الشَّاكِرِينَ



“Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke 

belakang (murtad)? Barangsiapa yang berbalik ke belakang, maka ia tidak dapat mendatangkan mudharat kepada Allah sedikitpun; dan Allah akan memberi balasan 

kepada orang-orang yang bersyukur.”

Ilmu Allah

"Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal. Yaitu orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata):Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Mahasuci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka." (Ali Imron:190-191)
Ilmu Allah
Ilmu Allah swt. maha luas, tak terjangkau, dan tak terbayangkan oleh akal pikiran, tiada terbatas. Dia mengetahui apa yang sudah dan akan terjadi serta yang mengaturnya. Manusia, malaikat, dan makhluk manapun tak akan bisa menyelami lautan ilmu Allah swt. Bahkan untuk mengetahui ciptaan Allah saja manusia tidak akan mampu. Tentang tubuhnya sendiri saja, tidak semuanya terjangkau oleh kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang telah dicapai manusia. Semakin didalami semakin jauh pula yang harus dijangkau, semakin banyak misteri yang harus dipecahkan, seperti jaringan kerja otak manusia masih merupakan hal yang teramat rumit untuk dikaji.
“Apakah kamu tidak mengetahui bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa saja yang ada di langit dan di bumi.”(QS. Al-Hajj: 70)
“Dialah Allah, Yang tiada Tuhan selain Dia. Yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata. Dialah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang” (QS. Al-Hasyr: 22)


“Di sisi-Nya segala anak kunci yang ghaib, tiadalah yang mengetahui kecuali Dia sendiri. Dia mengetahui apa-apa yang ada di daratan dan di lautan. Tiada gugur sehelai daun kayu pun, melainkan Dia mengetahuinya, dan tiada sebuah biji dalam gelap gulita bumi dan tiada pula benda yang basah dan yang kering, melainkan semuanya dalam Kitab yang terang.” (QS. Al-An’am: 59)

“Katakanlah, kalau sekiranya lautan menjadi tinta untuk menulis kalimat-kalimat Tuhanku, sungguh habislah lautan itu sebelum habis ditulis kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun kami datangkan tambahan sebanyak itu pula.” (QS. Al Kahfi: 109)

“Dan seandainya pohon-pohon di muka bumi menjadi pena dan laut (menjadi tinta), ditambahkan kepadanya tujuh lautan lagi, niscaya tidak akan habis-habisnya (dituliskan) kalimat Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. Luqman: 27).

Hendaknya manusia senantiasa men-taddaburi ayat-ayat-Nya, baik yang qauliyah maupun kauniyah. Karena di sana terdapat lautan ilmu-Nya, serta dorongan untuk mengkaji maupun mengimplementasikannya. “Hai jama’ah jin dan manusia jika kamu sanggup menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi, maka lintasilah, kamu tidak dapat menembusnya melainkan dengan kekuatan.” (QS. Ar-Rahman: 33). Dengan ayat ini manusia akan mengerti jika ingin menembus langit diperlukan energi yang besar.

Pencipta
“Dia lah Allah yang menciptakan, yang mengadakan, yang membentuk rupa, yang mempunyai nama-nama yang paling baik. Bertasbih kepada-Nya apa yang ada di langit dan di bumi. Dan Dia lah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. Al-Hasyr: 24).

“Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. Kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang. Maka lihatlah berulang-ulang, adakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang? Kemudian pandanglah sekali lagi niscaya penglihtaanmu akan kembali kepadamu dengan tidak menemukan sesuatu cacat dan penglihatanmu itupun dalam keadaan payah.” (QS. Al Mulk: 3-4)


Pemberi rezki
Allah sangat lembut dan kasih sayang pada hamba-Nya, dan memberikan mereka kehidupan di bumi yang penuh kenikmatan. Sedemikian hingga tanah pun menumbuhkan tunas dan hijauan meski manusia tidak menggarapnya. Dari tanah itu dihasilkanlah buah-buahan serta sayur-mayur berwarna kuning, hijau dan oranye. Masing-masing memiliki bau, rasa, dan zat-zat makanan yang khas, yang sangat berguna bagi manusia dalam hidupnya. Keberlimpahan nikmat nabati ini ada begitu saja sejak manusia dilahirkan, walau tanpa diminta.
”Seorang pun tidak mengetahui apa yang disembunyikan untuk mereka yaitu (bermacam-macam nikmat) yang menyedapkan pandangan mata sebagai balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. Al Israa’, 17:32)
Wahyu
"Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah dia; dan bertaqwa-lah kepada Allah.Sesungguhnya Allah sangat keras hukumannya" (Al Hasyr:7)

Hikmah mengimani ilmu Allah SWT untuk Kebenaran Mutlak, dan Pedoman hidup
Pertama,
Membuat manusia sadar bahwa betapa tidak berarti dirinya dihadapan Allah SWT, sebab seluruh ilmu yang dimiliki manusia adalah ibarat setitik air laut dibandingkan dengan air laut secara keseluruhan. Oleh karena itumanusia tidak ada alasan Untuk sombong dan menjadikan ilmu menjadi penyebab kekufuran dan kedurhakaan kepada Yang Maha Mengetahui segalanya. Seharusnya manusia menjadikan ilmu untuk alat ber-taqorub kepada-Nya, sebagaimana perilaku para ulil albab.



Kedua,
Dengan menyadari bahwa ilmu Allah SWT sangat luas, tidak ada satupun -betapa pun kecil dan halusnya- yang luput dari ilmu Nya, maka manusia akan dapat mengontroltingkah laku, ucapan amalan batinnya sehingga selalu sesuai dengan yang diridhai AllahSWT.
Ketiga,
Keyakinan terhadap ilmu Allah SWT akan menjadi terapi yang ampuh untuk segala penyelewengan, penipuan dan kemaksiatan lainnya. Maka dalam pemahamannya adalah dengan mengaplikasikan sifat Allah SWT tsb dalam kehidupan nyata sehari hari, berusaha melaksanakan perintah dan larangan-Nya baik ditempat ramai maupun sunyi. Kita tidak lagi terpengaruh dengan "diketahui" atau "tidak diketahui" oleh orang lain untuk melakukan atau meninggalkan sesuatu. 
Karena kitamenyadari betapa Allah SWT Maha Mengetahui yang pasti selalu melihat, mendengar,memperhatikan apa yang kita lakukan di mana dan kapan saja



Syarat-syarat diterimanya Dua Kalimat Syahadat

مَعْنَى الشَّهَادَتَيْنِ
Makna Dua Kalimat Syahadat


Madlul Syahadah (Kandungan Kalimat Syahadat)
Syahadatain begitu berat diperjuangkan oleh para sahabat, bahkan mereka sedia dan tidak takut terhadap segala ancaman kafir. Sahabat nabi misalnya Habib berani menghadapi siksaan dari Musailamah yang memotong tubuhnya satu persatu, Bilal bin Rabah tahan menerima himpitan batu besar di tengah hari dan sederet nama lainnya. Mereka mempertahankan syahadatain. Muncullah pertanyaan kenapa mereka bersedia dan berani mempertahankan kalimah syahadat? Ini disebabkan kerana kalimah syahadat mengandung makna yang sangat mendalam bagi mereka. Syahadah bagi mereka dan arti yang sebenarnya mencakupi pengertian ikrar, sumpah dan janji. Mayoritas umat Islam mengartikan syahadat sebagai ikrar saja, apabila mereka tahu bahwa syahadat juga mengandung arti sumpah dan janji, serta tahu bahwa akibat janji dan sumpah maka mereka akan benar-benar mengamalkan Islam dan beriman. Iman sebagai dasar dan juga hasil dari pengertian syahadat yang betul. Iman secara sebutan oleh mulut, juga diyakini oleh hati dan diamalkan oleh perbuatan sebagai pengertian yang sebenarnya dari iman. Apabila kita mengamalkan syahadat dan mendasarinya dengan iman yang konsisten dan istiqamah, maka beberapa hasil akan dirasakan seperti keberanian, ketenangan dan optimis menjalani kehidupan. Kemudian Allah Swt memberikan kebahagiaan kepada mereka di dunia dan di akhirat.

Rukun Islam
Rukun Islam ada 5
Ø  Mengucapkan dua kalimat syahadat
Ø  Mendirikan shalat
Ø  Menunaikan zakat
Ø  Puasa bulan Ramadhan
Ø  Menunaikan haji bagi yang mampu

Mana di antara rukun itu yang paling berat ?

•          Shalat memang berat (2:45), tapi ringan bagi yang khusyu’ (karena imannya benar)
•          Zakat juga berat, tapi bagi yang meyakini balasan dari Allah yang sangat besar, tentu akan menjadi ringan
•          Puasa juga berat, tapi bagi yang beriman dengan baik, akan jadi ringan
•          Haji juga berat, tapi bagi yang bertakwa itu menjadi ringan
•          Jadi yang menentukan adalah iman, yang ditentukan oleh baiknya syahadatnya (rukun pertama)

Kenapa syahadat diletakkan di awal, karena syahadatain menjadi titik tolak baliknya rukun yang lain. Syahadat adalah pintu masuk islam bagi orang kafir. Setelah mengucapkan syahadat maka seorang menjadi muslim (apapun Niatnya).  

Kandungan Syahadat

Arti Syahadah (“asyhadu”)
Pernyataan  (اَلْإِعْلاَنُ)
Sumpah (اَلْقَسَمُ)
Janji (اَلْعَهْدُ)

Syahadah Artinya PERNYATAAN
•          Bahasa Arabnya: اَلإِقْرَارُ atau اَلإِعْلاَنُ (dalam bahasa Indonesia: Iklan, yang seharusnya membacanya I’lan bukan iklan)
•          “Asyhadu” berarti “aku menyatakan”
•          Kalau dihubungkan dengan kalimat syahadat maka artinya “aku menyatakan bahwa tidak ada ilah kecuali Allah, dan aku menyatakan bahwa Muhammad adalah utusan Allah”

Syahadat Artinya SUMPAH
•          Kandungan kedua dari syahadat adalah SUMPAH
•          Bahasa Arabnya:  اَلْقَسَمُ
•          “Asyhadu” berarti “aku bersumpah”
•          Dihubungkan dengan kalimat syahadat maka artinya “aku bersumpah bahwa tidak ada ilah kecuali Allah, dan aku bersumpah bahwa Muhammad adalah utusan Allah”
•          Sumpah memberikan bobot kebenaran terhadap apa yang dinyatakan (makanya saksi sebelum bersaksi harus disumpah)
•          Bahwa yang dinyatakan itu tidak main-main, melainkan keluar dari hati yang paling dalam 

Dalil:
· Q.11: 112-113, istiqamah artinya tidak menyimpang atau cenderung pada kekufuran. Q.17: 73-74, istiqamah tetap teguh, tahan dan kuat dalam menghadapi dan melaksanakan perintah Allah. Q.42: 15, terus berjuang menyampaikan ajaran Allah dengan tidak mengikuti hawa nafsu. Hadits: Abi Amr atau Abi Amrah Sofyan bin Abdillah, ia berkata: “aku berkata: Wahai Rasulullah katakanlah kepadaku tentang suatu perkataan yang aku tak akan dapat menanyakannya kepada seseorang kecuali kepadamu’. Bersabdalah Rasulullah, katakanlah: aku telah beriman kepada Allah, kemudian berlaku istiqamahlah kamu”. (Muslim).
· Q.41: 30-32, orang yang beristiqamah didukung Malaikat yang akan menjadikannya berani, tenang dan optimis. Q.9: 52, sumber keyakinan tentang qadha dan qadar yang menimbulkan keberanian, kecelakaan atau kemudharatan hanyalah ketentuan Allah belaka. Q.3: 157-158, kemuliaan merupakan anugerah Allah bagi orang-orang mukmin sehingga mereka tidak takut menyampaikan risalah kebenaran, lihat Q.33: 39.
· Q.13: 28, ketenangan dapat diperoleh dengan mengingat Allah. Q.47: 7, 3: 173, 33: 23, ketenangan yang diperoleh karena tawakkal terhadap janji perlindungan Allah yang pasti sehingga timbul pula keberanian menghadapi musuh. Ibnu Taimiyah berkata, “apa yang hendak dilakukan musuh-musuhku terhadapku? Sesungguhnya surga aku terletak dihatiku. Dimanapun aku berada ia selalu bersamaku. Sesungguhnya kematianku adalah syahid. Penjaraku adalah rasa manis, sedangkan mengusirku bagiku adalah travelling. Ibnu Qayyim mengambil perkataan seorang alim “sesungguhnya kita berada dalam kelezatan (hati) yang seandainya anak-anak raja mengetahuinya tentu mereka ingin mengambilnya dengan pedang-pedang mereka.
· Q.3: 160, optimis bahwa dengan pertolongan Allah tak akan ada yang dapat mengalahkan. Q.33: 22-23, contoh optimis para sahabat Rasul di perang Ahzab. Hadits, Rasulullah yakin akan mengalahkan Rumawi dan Parsi dengan menjanjikan kepada Saraqah bin Malik akan memberikan gelang dan mahkota Parsi dengan keislamannya. Hal ini kemudian terbukti dengan kemenangan kaum muslimin dalam perang Qadissiyya.



اْلإِلَهِ
Kandungan Kata “Ilah”
Kata ILAH
•          Terdiri atas tiga hurup: alif, laam, dan haa
•          Kalau merujuk ke kamus besar bahasa Arab maka ALIHA itu memiliki beberapa arti
–           Tenang/tentram (سَكَنَ إِلَيْهِ)
–           Memohon perlindungan (اِسْتَجَارَ بِهِ)
–           Yang dituju karena rindunya (اِشْتَاقَ إِلَيْهِ)
–           Paling dicintai/dirindukan (وُلِعَ بِهِ)
–           Mengabdi (عَبَدَهُ)

Tenang/Tentram (سَكَنَ إِلَيْهِ)
•          Berarti لاإله إلاالله maknanya “tidak ada yang dapat memberikan ketenangan dan ketentraman kecuali Allah”
•          Seorang Muslim harus yakin bahwa tidak ada yang dapat menenangkan dan menentramkan kecuali menjalin hubungan dengan Allah
•          13:28 أَلا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ (Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram)
•          10:7 ridho dan merasa tenang dengan kehidupan dunia (وَرَضُوا بِالْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَاطْمَأَنُّوا بِهَا)

Memohon Perlindungan (اِسْتَجَارَ بِهِ)
•          Berarti لاإله إلاالله maknanya “tidak ada yang dapat memberikan perlindungan kecuali Allah”
•          72:6 minta perlindungan kepada jin, didapati adalah bencana dan dosa
•          Hadits: meski semua makhluk melindungi seseorang tapi Allah hendak menimpakan bencana, maka akan tertimpa bencana. Begitu pula sebaliknya

Yang Dituju Karena Rindunya (اِشْتَاقَ إِلَيْهِ)
•          Berarti لاإله إلاالله maknanya “tidak ada yang dituju karena rindunya kecuali Allah”
•          اللهُ غَايَتُنَا Allah tujuan kami
•          51:50-51 larilah kamu menuju Allah
–           Kalau lari, tabiatnya muka ke depan dan tidak berpaling ke kiri dan ke kanan
–           Jangan terbuai dengan dunia dan orang lain
•          18:28 وَلا تَعْدُ عَيْنَاكَ عَنْهُمْ  (janganlah kedua matamu berpaling dari mereka)

Paling Dicintai/Dirindukan (وُلِعَ بِهِ)
•          Berarti لاإله إلاالله maknanya “tidak ada yang dicintai atau dirindukan kecuali Allah”
•          Boleh kita cinta anak, harta, dan yang lainnya, tapi yang paling dicintai haruslah Allah
•          2:165 kecintaan seorang mu’min kepada Allah harus sangat cinta, bukan sama cintanya dengan kepada selainNya
•          Kenapa cintai tertinggi harus kepada Allah?
–           Karena tabiat cinta itu menuntut pengorbanan
–           Menuruti tuntutan anak, istri, dan lainnya tidak boleh bertentangan dengan Allah

Mengabdi (عَبَدَهُ)

•          Ini arti ilah yang merangkum semua arti ilah di atas
•          Karena mengabdi berarti
–           Merasa tenang
–           Minta perlindungan
–           Menuju karena rindunya
–           Mencintai
•          Berarti لاإله إلاالله maknanya “tidak ada yang berhak diabdi kecuali Allah”

Allah Pemilik Otoritas (صَاحِبُ الْوِلاَيَةِ)

•          Hak memerintah dan memimpin ada di Tangan Allah, bukan yang lain
•          7:54 أَلا لَهُ الْخَلْقُ وَالأمْرُ  Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah
•          7:196 إِنَّ وَلِيِّيَ اللَّهُ الَّذِي نَزَّلَ الْكِتَابَ وَهُوَ يَتَوَلَّى الصَّالِحِينَ Sesungguhnya pelindungku ialah Allah yang telah menurunkan Al Kitab (Al Qur'an) dan Dia melindungi orang-orang yang saleh.
•          Kalau ada manusia yang mengaku punya otoritas à merebut hak Allah = syirik

Allah Pemilik Ketaatan (صَاحِبُ الطَّاعَةِ)

•          Ketaatan yang utama adalah taat kepada Allah (4:59)
•          Ketaatan kepada Rasul karena Rasul tidak pernah ma’siyat kepada Allah, sehingga nilai ketaatannya sama (4:80)
•          Ketaatan kepada ulil amri punya syarat, ulil amri itu taat kepada Allah
لَا طَاعَةَ فِي مَعْصِيَةٍ إِنَّمَا الطَّاعَةُ فِي الْمَعْرُوفِ
Tidak ada ketaatan dalam ma’siyat, ketaatan itu hanya pada masalah ma’ruf (Muttafaq alaih)

Allah Pemilik Kedaulatan (صَاحِبُ الْحَاكِمِيَّةِ)

•          Kedaulatan ada di tangan Allah (6:57, 12:40,67)
إِنِ الْحُكْمُ إِلا لِلَّهِ
Menetapkan hukum itu hanyalah hak Allah
•          Kedaulatan rakyat bermakna
–           Bagaimana umat Islam sebagai mayoritas mendapatkan aspirasi-aspirasi yang Islami
–           Memastikan bahwa negara ini adalah negara hukum, sehingga hak-hak terlindungi sesuai tujuan-tujuan syari’at (مَقَاصِدُ الشَّرِيْعَةِ) 



اَلْوَلاَءُ وَالْبَرَاءُ
Loyalitas dan Pemutusan Hubungan

Susunan Unik لاإله إلاالله


•      Kalimat لاإله إلاالله memiliki susunan yang unik
لا ……. إلا ……..
•      Jadi yang dikehendaki adalah “peniadaan semuanya (ilah) dan pengokohan satu saja (Allah)
–     Tidak kenal kompromi
–     Harus dihilangkan sebersih-bersihnya
•      Itulah gambaran kalimat لاإله إلاالله
•      Hasilnya adalah keimanan yang kokoh
•      لاإله tanpa إلاالله
•      Menolak kebatilan tanpa mau menerima kebenaran
•      Hasilnya kebatilan lagi
•      Mungkin hanya rupanya yang berbeda, tapi tetap kebatilan (kebatilan baru)
•      Contoh: menolak kapitalisme tapi tidak mau menerima Islam, hasilnya sosialisme/komunisme

Rincian Kalimat لاإله إلاالله

•      Kalimat لاإله إلاالله terdiri atas empat kata
Ø  لا
Ø  إله
Ø   إلا
Ø  الله
•      Masing-masing memiliki fungsi
Ø  لا fungsinya adalah meniadakan (اَلنَّفْيُ)
Atau makna yang sejenis: menghancurkan, meruntuhkan, membabat, menghilangkan
•      إله fungsinya sebagai yang ditiadakan (اَلْمَنْفِيُّ)
•      Pembahasannya sudah diuraikan di A03 Ma’nal Ilah
Keduanya mengandung maksud bahwa kita harus berlepas diri dari semua ilah atau disebut dengan اَلْبَرَاءُ
Ø Ada empat makna yang dimaksud oleh kata al-bara’
–     Mengingkari atau menolak (اَلْكُفْرُ)
–     Memusuhi (اَلْعَدَاوَةُ)
–     Membenci (اَلْبُغْضُ)
–     Memutuskan atau mengisolir (اَلْمُفَاصَلَةُ)
Jadi memutuskan hubungan dengan semua ilah disertai pengingkaran, permusuhan dan kebencian. Putus hubungan tanpa menolak, memusuhi dan membencinya à masih mungkin balik lagi
Ø  إِلاَّ fungsi sebagai pengecualian (الإِسْتِثْنَاءُ) tapi karena ada لا (meniadakan) maka fungsinya sebagai اَلإِثْبَاتُ (mengokohkan)
•      اَلله adalah Dzat yang dikokohkan (اَلْمُثْبَتُ)
•      Keduanya mengandungkan maksud agar kita memberikan kesetiaan kita hanya kepada Allah semata (اَلْوَلاَءُ)